Realitas Kusut dari Menyusutnya Lahan dan Tenaga Kerja Pertanian

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Bekerja di sektor pertanian seringkali dipandang sebagai pekerjaan yang melelahkan, berupah rendah, tidak berdaya, dan bahkan dikaitkan sebagai tanda kemiskinan. Inilah beberapa alasan mengapa jumlah petani Indonesia terus menurun sejak beberapa dekade terakhir. Pada 1976, sekitar 65% tenaga kerja Indonesia adalah petani namun hanya 28% yang tersisa pada tahun 2018. Tidak lama, kita akan mengalami kekurangan tenaga kerja pertanian.

Lahan pertanian juga menyusut akibat pembangunan infrastruktur. Banyak petani yang menjual tanahnya untuk dikonversi karena sulitnya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Di Jawa Barat, 93% rumah tangga petani hanya mengelola petak kecil dengan luas kurang dari 1000 m2. Dari ladang ini, petani hanya bisa menghasilkan pendapatan Rp 200.000 perbulan. Kondisi ini memaksa petani untuk mencari pekerjaan sampingan lain.

Meskipun generasi muda tampaknya enggan bekerja di bidang pertanian, beberapa di antaranya berhasil mengembangkan inisiatif berbasis teknologi untuk membantu para petani berkembang. Start-up seperti TaniHub dan Sayurbox memungkinkan konsumen untuk membeli produk segar langsung dari petani, sementara TaniFund memungkinkan individu untuk meminjamkan uang kepada petani sebagai sumber dana untuk memperluas operasi mereka. Namun, tantangan masih menghadang dalam penyediaan investasi infrastruktur, mulai dari jalan pedesaan, listrik hingga logistik rantai dingin. Pemerintah telah menyadari perlunya menjawab tantangan infrastruktur tersebut, terlihat dari meningkatnya investasi menggunakan anggaran publik. Banyak dari proyek pembangunan infrastruktur ini berusaha untuk memperluas cakupan irigasi dan mempromosikan teknologi canggih untuk meningkatkan hasil panen.

Hal serupa terjadi di food estate, sebagaimana pemberitaan tentang kemajuan pelaksanaannya masih terfokus pada upaya pembangunan infrastruktur. Namun, belajar dari fakta tentang situasi yang dihadapi banyak petani di tempat lain, ketersediaan lahan bukanlah satu-satunya tantangan. Dibutuhkan upaya yang lebih substansial untuk mengutamakan kesejahteraan petani. Semuanya untuk menjamin umur panjang dan keberlanjutan food estate.

Artikel Lainnya

Scroll to Top