Sawah Sejuta Hektar: Harapan yang Menjadi Bencana

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Pada tahun 2015, salah satu bencana kabut asap terparah di Indonesia terjadi di Kalimantan. Ini bukan pertama kalinya api mendatangkan malapetaka di sana. Ceritanya berawal di tahun 1995, dari kegagalan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Satu Juta Hektar. Proyek tersebut menginisiasi 1 juta hektar lahan gambut untuk dijadikan lumbung pangan. Sebagai bagian dari proyek, sistem saluran air (kanal) dikembangkan. Naas, hal tersebut malah membuat lahan gambut menjadi kering sehingga mudah terbakar. Di salah satu kota terdampak, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tingkat pencemaran bencana kebakaran tahun 2015 mencapai 1300% di atas ambang batas udara sehat bagi manusia. Bayangkan betapa berbahayanya peristiwa ini bagi paru-paru masyarakat setempat.

Dokumenter ini menampilkan dampak negatif lebih luas dari kegagalan di tahun 1995. Tidak hanya dari sisi kesehatan tetapi dari sisi ekonomi, semua terkena dampak yang signifikan. Mata pencaharian masyarakat setempat memburuk karena lahan yang digunakan terdegradasi dan terabaikan. Akibatnya, sumber pendapatan untuk hidup mereka berkurang. Beberapa warga terpaksa mengandalkan tangkapan ikan yang tidak stabil dengan hasil yang semakin parah setelah gagalnya PLG. Dari segi pendidikan, sekolah terpaksa tutup karena kabut asap yang tebal. Proses pembelajaran tidak efektif. Kisah yang terungkap dalam dokumenter ini menyorot lahan gambut yang terdegradasi akibat salah kelola sumber daya air di masa MRP – yang berdampak pada penduduk setempat hingga beberapa tahun belakangan.

Mengubah lahan yang tersedia untuk pertanian memang merupakan jawaban yang menjanjikan untuk memenuhi ketahanan pangan masyarakat. Namun, implementasi detailnya menyimpan potensi dan ancaman. Tidak hanya studi kelayakan fisik (lahan), kesesuaian proyek bagi masyarakat juga harus diperhatikan. Banyak studi yang menggarisbawahi dampak negatif PLG di berbagai aspek, dan dokumenter ini menunjukkan perspektif masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Ke depan, pihak yang berwenang harus lebih hati-hati dalam hal ilmu pengetahuan dan realitas di lapangan untuk memulai proyek-proyek yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Topik

Sumber

Artikel Lainnya

Scroll to Top