Tim Kami

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Temui Tim

Kami bekerja di lingkungan yang dinamis dengan kelompok yang beragam dan giat. Temui tim kami yang sederhana dengan mimpi besar di bawah ini.

Tay Enoku menjabat sebagai Direktur Umum Yayasan Tay Juhana seraya memimpin pengembangan strategis di Sambu Group, organisasi utama yang menyediakan sumber daya untuk mendukung tujuan Yayasan Tay Juhana.

Dia dan saudara-saudaranya terus membawa obor yang diturunkan dari almarhum Pak Tay Juhana – visi, nilai, dan mimpi untuk menciptakan dampak. Kesemuanya diterjemahkan ke dalam bisnis pertanian kelapa yang bertanggung jawab secara sosial untuk kepentingan masyarakat luas dan serangkaian karya filantropi yang bertujuan untuk secara bersamaan menyediakan pangan untuk kemanusiaan dan melestarikan ekosistem alami.

Sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Tay Juhana, Tay Ciaying mengarahkan, menginspirasi dan memotivasi tim serta melakukan advokasi bersama untuk mencapai produksi pangan yang berkelanjutan untuk kemanusiaan mengingat ancaman perubahan iklim dan kelangkaan pangan .

Dia juga merupakan Direktur Eksekutif dari Yayasan Bahtera Dwipaabadi (YBDA), yang berfokus pada kesejahteraan dan peningkatan martabat petani dan pekerja Indonesia yang mendukung keberlanjutan industri kelapa Indonesia dan komunitas lokal.

Christian Hsieh memimpin dewan penasihat Yayasan Tay Juhana dengan pengalamannya dalam bidang keuangan, strategi, dan operasi lintas sektor perbankan, industri, dan konsumen.

Christian adalah pengusaha teknologi dan mantan direktur eksekutif J.P. Morgan Chase Bank di Asia. Dia adalah investor aktif dalam teknologi dan usaha sosial.

Noya mendapatkan gelar sarjananya di bidang Meteorologi Terapan di Institut Pertanian Bogor. Mengikuti minatnya di bidang pengelolaan lingkungan, ia melanjutkan studi di Utrecht University dan lulus dari program magister Water Science and Management.

Sampai saat ini, Noya belajar untuk bergaya hidup yang berkelanjutan serta berkontribusi lebih banyak untuk Bumi serta masyarakat global. Sementara itu, ia juga bertindak secara lokal dengan bergabung dengan beberapa kegiatan sukarela yang berfokus pada sektor pendidikan.

Andika memegang gelar sarjana administrasi publik dari Universitas Brawijaya. Sebelum bergabung dengan TJF, ia bekerja sebagai surveyor untuk pemantauan dan evaluasi kebijakan pemerintah di bawah koordinasi Jakarta Smart City.

Selama hampir tiga tahun, ia juga terlibat dalam komunitas pemuda hijau serta platform filantropis yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat berkelanjutan dan pendidikan publik.

Zara bertanggung jawab dalam memfasilitasi penelitian dan kemitraan yang berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Antusiasmenya dalam menghubungkan lingkungan dan pertumbuhan telah tumbuh sejak tahun-tahun perkuliahan di mana ia menjadi Kepala Mahasiswa untuk Advokasi Lingkungan.

Sebelum bergabung dengan TJF, Zara bekerja untuk sebuah LSM internasional di mana di berkontribusi dalam lebih dari 20 proyek konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Kalimantan, NTT, dan Papua. Zara memperoleh gelar sarjana Hubungan Internasional dengan spesialisasi Tata Pemerintahan Iklim dari UIN Jakarta. Dia juga seorang penerima beasiswa SUSI dalam Global Environemnt Studies di Universitas Montana University.

Ihsan memperoleh gelar Magister Geografinya dari Universitas Gadjah Mada dengan tesis mengenai perubahan dan fragmentasi hutan mangrove. Sejak itu, ia bekerja dalam bidang pengelolaan lingkungan di mana ia menerbitkan sejumlah artikel dan buku ilmiah. Dia percaya bahwa menghadirkan subjek ilmiah sebagai tulisan adalah tugas moralnya.

Karena lingkup pekerjaannya, Ihsan menikmati kegiatan penelitian lapangan. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di bentang terbuka. Saat bekerja di dalam ruangan, dia biasanya mengerjakan karya ilmiahnya, atau dengan santai membaca buku dan menonton serial.

Dewi adalah lulusan Ilmu Komunikasi dari Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor. Ia kemudian melanjutkan studinya dan memperoleh gelar Sarjana Komunikasi di Universitas Sebelas Maret.

Dewi suka terlibat dalam proyek sosial dan kegiatan pemberdayaan masyarakat sejak ia memasuki kehidupan kampus. Salah satu momen favorit dalam hidupnya adalah ketika dia menjadi sukarelawan sebagai guru untuk anak-anak pekerja migran Indonesia di Sabah, Malaysia. Baginya, hidup akan terasa lebih ‘hidup’ jika ia bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun itu.

Scroll to Top