FOSTER: Sistem Pertanian Terpadu untuk Diversifikasi dan Ketahanan di Lahan Suboptimal

26 Agustus 2026 14:52

FOSTER: Sistem Pertanian Terpadu untuk Diversifikasi dan Ketahanan di Lahan Suboptimal

Di pesisir selatan Indragiri Hilir, Riau, tepatnya di sisi timur Pulau Sumatra, kondisi tanah menjadi salah satu tantangan utama bagi produksi pangan. Tanah di wilayah ini berupa tanah sulfat masam dengan struktur liat dan pH yang secara alami rendah, sehingga tergolong sebagai lahan suboptimal untuk pertanian.

Kelapa telah lama menjadi komoditas utama di wilayah ini. Selain relatif mampu beradaptasi dengan kondisi lahan, kelapa juga telah menjadi komoditas utama yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Ketergantungan pada satu komoditas ini menjadi salah satu tantangan tersendiri. Ketika sumber pangan dan pendapatan utama bergantung pada satu komoditas, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap berbagai ancaman, mulai dari penurunan kualitas dan kesuburan tanah secara alami hingga gangguan yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Walaupun kelapa tetap menjadi bagian penting dari sumber penghidupan masyarakat di wilayah ini, Tay Juhana Foundation (TJF) percaya bahwa ketahanan pangan lokal dapat lebih diperkuat dengan menghadirkan sumber pangan yang lebih beragam dan mudah diakses oleh masyarakat setempat.

Pendekatan Sistem Pertanian Terpadu

Untuk merespons kondisi tersebut, TJF mengeksplorasi dan mengembangkan pendekatan Integrated Agriculture System (IAS) atau Sistem Pertanian Terpadu, yang berangkat dari kajian mengenai sistem pertanian.

Pada dasarnya, pendekatan ini menghubungkan berbagai kegiatan pertanian dan perikanan, seperti sawah, kolam ikan, peternakan, maupun kebun pekarangan, sehingga hasil dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan sebagai masukan bagi kegiatan lainnya. Sisa tanaman, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai pakan, sementara kotoran ternak dapat digunakan sebagai pupuk. Sistem pengelolaan air juga dapat dimanfaatkan bersama untuk mendukung berbagai kegiatan dalam sistem tersebut.

Pertukaran sumber daya ini dapat membantu pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien sekaligus mengurangi ketergantungan pada input dari luar yang berbiaya tinggi. Dengan demikian, sistem yang saling terhubung berpotensi menjadi lebih tangguh dalam menghadapi gangguan dibandingkan jika setiap kegiatan berjalan secara terpisah.

Pendekatan semacam ini bukanlah gagasan baru. Di berbagai wilayah dengan kondisi lahan yang serupa, masyarakat telah menerapkan pendekatan terpadu untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.

Di wilayah lahan basah yang rawan banjir di Bangladesh, misalnya, petani yang mengintegrasikan budidaya tanaman, peternakan, dan perikanan menunjukkan peningkatan pendapatan sekaligus penghidupan. Sementara itu, studi di Kabupaten Minahasa pada lahan dengan kondisi tanah yang juga menantang menunjukkan bahwa integrasi peternakan sapi dengan budidaya padi dan jagung dapat membantu meningkatkan pemanfaatan lahan yang sulit dikelola melalui pertanian konvensional.

Bagi wilayah selatan Indragiri Hilir yang menghadapi kondisi tanah yang menantang dan penghidupan yang banyak bertumpu pada satu komoditas, pendekatan ini membuka peluang untuk mendiversifikasi sumber pangan sekaligus memaksimalkan potensi sumber daya yang telah tersedia secara lokal.

FOSTER dan Adaptasi Sistem Pertanian Terpadu di Kuala Enok

Untuk mengusahakan ketahanan pangan lokal di Kabupaten Indragiri Hilir, mulai dari wilayahnya di bagian selatan, TJF mengeksplorasi pendekatan ini melalui Food Security and Sustainability Center (FOSTER) yang berlokasi di Kecamatan Tanah Merah, Kuala Enok, Indragiri Hilir, Riau.

Melalui FOSTER, TJF berupaya berkontribusi pada pengembangan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan tangguh bagi masyarakat di wilayah selatan Indragiri Hilir. Penerapan Sistem Pertanian Terpadu dalam FOSTER disesuaikan dengan kondisi tanah, air, serta masyarakat di Kuala Enok.

Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pembelajaran yang relevan bagi masyarakat setempat, tetapi juga dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah lain yang memiliki karakteristik lahan serupa.

Langkah Awal: Dua Proyek yang Sedang Dikembangkan

Sebagai langkah awal, TJF memulai dua proyek di bawah FOSTER yang saat ini masih berada pada tahap awal pemodelan.

Proyek pertama berfokus pada budidaya padi. Berbagai varietas padi dan perlakuan tanah sedang diuji pada lahan sulfat masam di Kuala Enok untuk mengidentifikasi kombinasi yang dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik dalam kondisi tanah yang masam dan kering.

Proyek kedua berfokus pada akuakultur, dengan mengeksplorasi budidaya ikan di parit, yaitu jaringan saluran air yang membentang di wilayah tersebut. Eksplorasi ini diarahkan pada pendekatan yang memanfaatkan sumber daya lokal dan realistis untuk dikelola serta dipelihara oleh masyarakat.

Untuk saat ini, kedua proyek masih berjalan secara terpisah dan masing-masing membangun basis pengetahuannya. Seiring perkembangannya, FOSTER berharap dapat menghubungkan budidaya padi dan akuakultur ke dalam satu sistem yang lebih terpadu.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai sistem pertanian terpadu yang sedang dikembangkan serta berbagai pembelajaran mengenai budidaya di lahan basah Indragiri Hilir, simak TJF Research Brief kami. Kami akan terus membagikan perkembangan dari berbagai proyek FOSTER. Ikuti juga Tay Juhana Foundation melalui Instagram dan LinkedIn untuk mendapatkan informasi dan pembaruan terbaru.

Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584

Ikuti media sosial kami:
[object Object][object Object][object Object][object Object]

Kebijakan Privasi

Copyrights © 2026 Tay Juhana Foundation