Agroforestri di Indragiri Hilir: Solusi Ketahanan Pangan dan Resiliensi Lahan Gambut

25 September 2025 16:34

Agroforestri di Indragiri Hilir: Solusi Ketahanan Pangan dan Resiliensi Lahan Gambut

Tekanan Ekonomi dari Kenaikan Harga Pangan

Terlepas dari proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) akan adanya surplus produksi beras hingga Oktober 2025, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Laporan BPS bulan Agustus lalu, yang diperkuat oleh price monitoring dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), menunjukkan bahwa pasar beras di Indonesia terus mengalami kenaikan harga dan penipisan ketersediaan. Hal ini juga terjadi di Riau, termasuk di Indragiri Hilir (Inhil), di mana salah satu daerahnya, Tembilahan, mencatatkan tingkat inflasi tertinggi di provinsi tersebut.

Bagi petani kelapa—yang merupakan mayoritas penduduk di Inhil—kenaikan harga ini semakin menambah beban biaya hidup sehari-hari. Tanpa lonjakan harga, pemenuhan kebutuhan pangan sudah menjadi pengeluaran terbesar bagi petani kelapa. Dengan adanya lonjakan harga ini, stabilitas ekonomi dan kesejahteraan keluarga petani semakin terancam.

Kerentanan ini muncul karena beberapa faktor. Salah satunya adalah panjangnya rantai pasok pangan di wilayah tersebut. Sebagian besar pangan yang dijual di Inhil harus melalui perjalanan yang panjang, sehingga harga sangat tergantung pada ketersediaan pangan di daerah tetangga, kondisi logistik, dan biaya di hulu. Selain itu, sumber pendapatan petani yang cenderung bersifat tunggal memperparah situasi. Sebagai komunitas di lahan gambut, mayoritas petani kelapa hanya menggantungkan sumber pendapatannya pada kelapa yang membutuhkan siklus panen hingga tiga bulan. Ketergantungan hanya pada satu sumber pendapatan yang membutuhkan masa panen panjang ini membuat rumah tangga petani rentan terhadap fluktuasi pasar dan minim resiliensi ekonomi.

Perkebunan kelapa mendominasi sebagian besar kabupaten yang terletak di pesisir.

Ancaman Iklim terhadap Pertanian Kelapa di Lahan Gambut

Kerentanan petani kelapa di Inhil juga kian diperparah dengan adanya tantangan perubahan iklim. Petani di seluruh dunia kini harus menghadapi kenaikan potensi ketidakpastian cuaca dan bencana alam, termasuk di Indonesia. Pada kasus perkebunan kelapa di Inhil, dampaknya menjadi lebih kompleks. Hal ini karena sebagian besar perkebunan kelapa yang sudah lama dikembangkan masyarakat lokal ada di atas lahan gambut—jenis lahan yang secara alami rentan dan membutuhkan pengelolaan ekologis yang lebih ketat, bahkan dalam kondisi tanpa ancaman iklim.

Dengan meningkatnya ancaman iklim, tantangan bagi petani kelapa di Inhil untuk mengelola perkebunannya semakin berlipat. Musim kemarau yang lebih panjang, suhu panas yang lebih menyengat, serta peluang banjir, kebakaran, dan penurunan muka tanah yang lebih besar membuat lahan gambut semakin rentan mengalami degradasi, sebagaimana dicatat oleh Pantau Gambut. Perubahan ini tidak hanya mengganggu aktivitas pertanian di Inhil, tetapi juga berpotensi menciptakan siklus yang memperburuk perubahan iklim itu sendiri jika tidak dikelola dengan bertanggung jawab.

Tidak hanya itu, perubahan iklim juga memicu percepatan penyebaran hama dan penyakit. Menurut Kementerian Pertanian, peningkatan suhu global dan kelembaban udara, potensi bencana alam yang intens, serta pergeseran musim berpotensi mempercepat siklus hidup hama dan memperluas jangkauannya. Dengan adanya ancaman ini, bersama dengan ketidakpastian cuaca, potensi gagal panen menjadi meningkat. Hal ini pada akhirnya mampu memengaruhi kestabilan sumber pendapatan petani.

Produksi pangan berbasis pertanian yang terganggu beserta persediaan pangan secara keseluruhan yang terancam, pada akhirnya, mampu memunculkan dampak yang lebih luas. Beberapa dampaknya meliputi petani kelapa yang menjadi lebih rentan untuk kehilangan pendapatan dalam jangka waktu yang lebih panjang seiring dengan bertambahnya masa tunggu keberhasilan panen, pasokan pangan di pasaran yang menyusut, serta harga pangan yang kian melambung. Bagi keluarga petani, hal ini juga bisa berarti semakin sedikit pilihan pangan bergizi yang terjangkau. Jika dibiarkan, tekanan ini dapat memperdalam ketimpangan dan mengancam ketahanan pangan.

Agroforestri: Harapan Baru bagi Petani Kelapa di Lahan Gambut

Di tengah tekanan dan tantangan yang muncul karena perubahan iklim, masih ada peluang jalan keluar bagi petani. Jika kita melihat lebih luas ke komunitas pertanian di Indonesia, banyak praktik tradisional yang sudah terbukti mampu merawat keberlangsungan kesehatan lahan sekaligus menjaga produktivitasnya untuk ketahanan pendapatan petani. Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan oleh petani kelapa di Inhil adalah sistem agroforestri.

Dalam konteks Inhil, petani bisa mengaplikasikan sistem agroforestri dari bentuknya yang paling sederhana: sistem tumpangsari. Sistem ini bisa dilakukan dengan menanam kelapa bersama tanaman lain yang cocok dengan kondisi gambut – seperti pinang, pisang, singkong, nanas, hingga kopi liberika. Dengan mendiversifikasi tanaman, petani bisa memaksimalkan manfaat ekonomi dari lahan gambut sekaligus melindunginya secara ekologis, terutama dalam menghadapi perubahan iklim.

Secara ekonomi, agroforestri mampu menawarkan penghasilan tambahan untuk menjaga kestabilan hidup keluarga petani. Dengan menambah tanaman dengan siklus panen yang lebih singkat, petani bisa memperoleh aliran pendapatan yang lebih rutin selama masa tunggu kelapa. Laporan riset kami yang berjudul Coconut-based Agroforestry-Paludiculture to Improve Peatlands Sustainability and Food Security, misalnya, menyebutkan bahwa nanas adalah tanaman sela yang sangat cocok dan menguntungkan untuk ditanam bersama kelapa di lahan gambut. Hal ini karena nanas tumbuh baik di lahan gambut dan tidak membutuhkan banyak pupuk atau perawatan intensif. Dengan begitu, tumpangsari kelapa dan nanas tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga bisa menawarkan keamanan bagi keluarga petani ketika ada guncangan ekonomi.

Dari sisi ekologi, riset kami juga mencatat bahwa metode ini dapat meningkatkan nutrisi tanah pertanian, menciptakan penghalang alami bagi hama dan penyakit dengan beragamnya jenis tanaman, serta mendukung keanekaragaman hayati di lahan tersebut. Dengan begitu, sistem pertanian bisa menjadi lebih tangguh terhadap tantangan yang disebabkan oleh perubahan iklim sekaligus menjaga keberlangsungan kesehatan lingkungan dan tanah di bawahnya.

Toward a More Resilient and Sustainable Future

Agroforestri bukan hanya tentang cara bertani, melainkan juga menawarkan solusi bagi ketahanan pangan yang bersifat cerdas iklim (climate-smart), berkelanjutan bagi lahan pertanian, sekaligus berpusat pada kesejahteraan manusia. Bagi petani kelapa di Inhil, agroforestri menawarkan cara untuk menjaga keberlangsungan panen, mendiversifikasi pendapatan, sekaligus menjaga lahan gambut yang menjadi sandaran hidup mereka.

Pelajari lebih lanjut dalam riset kami Coconut-based Agroforestry-Paludiculture to Improve Peatlands Sustainability and Food Security, dan nantikan webinar kami dalam rangka memperingati World Food Day pada 16 Oktober 2025 untuk mendiskusikan bagaimana agroforestri dapat memperkuat sistem pangan berkelanjutan. Ikuti juga kisah dan update terbaru melalui Instagram dan LinkedIn kami, karena perubahan dimulai dari langkah bersama hari ini.

Category

Lainnya

Topic

Pertanian

Ketahanan Pangan

Mata Pencaharian

Agroforestri

Share This Article
facebooktwitterlinkedinwhatsapp

Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584

Ikuti media sosial kami:
[object Object][object Object][object Object][object Object]

Kebijakan Privasi

Copyrights © 2025 Tay Juhana Foundation