Keragaman di Meja Berbuka: Ketahanan Pangan Bukan Hanya Soal Beras

27 Februari 2026 23:53

Keragaman di Meja Berbuka: Ketahanan Pangan Bukan Hanya Soal Beras

Momen Ramadan merupakan bulan yang sangat dinanti oleh masyarakat muslim, termasuk di Indonesia. Di momen ini, makanan tidak hanya menjadi kebutuhan harian, tetapi juga simbol kebudayaan, kebersamaan, dan tradisi. Setiap sore, hidangan pembuka puasa hadir dalam rupa yang berbeda-beda: kolak di satu daerah, papeda atau ubi rebus di daerah lain, jajanan pasar, buah musiman, hingga olahan lokal yang hanya muncul pada waktu tertentu dalam setahun. Tanpa disadari, meja berbuka memperlihatkan bahwa keragaman pangan bukanlah sesuatu yang jauh atau sulit diwujudkan. Alih-alih, keragaman pangan sudah hidup dalam masyarakat, dibentuk oleh bermacam-macam budaya, bentang alam, dan kearifan lokal dari setiap wilayah.

Di balik beragamnya ketersediaan jenis pangan tersebut, terdapat satu pertanyaan penting yang kerap tersembunyi: seberapa tangguh sebenarnya sistem pangan yang menopang ketersediaan makanan sehari-hari di Indonesia

Pertanyaan ini mungkin terasa jauh dari sekadar meja saat berbuka puasa yang hangat dan penuh. Namun, bagi sebagian masyarakat Indonesia, pertanyaan ini penting diperhatikan untuk keberlanjutan ketersediaan makanan setiap harinya.

Misalnya, TJF Brief pada tahun 2020 mencatat bahwa pada tahun 2018, di Kabupaten Asmat, fenomena kelaparan memunculkan krisis malnutrisi dan merenggut 71 jiwa. Fenomena ini terjadi karena adanya ketergantungan pada satu komoditas pokok, yaitu beras, tanpa adanya substitusi karbohidrat lain sebagai cadangan. Di satu sisi, Kabupaten Asmat memang bukan daerah penghasil beras. Namun, di sisi lain, fenomena ketergantungan terhadap beras muncul dan meminggirkan praktik tradisional penanaman ubi dan sagu. Kondisi ini menjadikan Kabupaten Asmat rentan terhadap guncangan pangan ketika stok beras menipis dan akses rantai distribusi bermasalah.

Kabupaten Asmat adalah salah satu contoh dari banyak wilayah di Indonesia yang ketersediaan makanannya sangat bergantung pada rantai distribusi yang panjang dan rentan terhadap gangguan. Wilayah-wilayah ini biasanya adalah daerah yang tidak memproduksi pangan pokoknya sendiri dan menggantungkan pangan pokoknya hanya pada satu komoditas, seperti beras.

Kecenderungan ini tidak terjadi begitu saja. Secara historis, dominasi beras sebagai satu-satunya pangan pokok lekat kaitannya dengan kebijakan swasembada pangan pada masa Orde Baru tahun 1970-an. Melalui upaya besar-besaran pembangunan 'lumbung padi' di seluruh Nusantara, persepsi masyarakat terhadap beras sebagai pangan pokok utama terbentuk dan mengakar kuat. Pola konsumsi pun bergeser: hingga tahun 2010, dominasi beras terus menguat sementara pangan lokal lainnya semakin terpinggirkan. Upaya diversifikasi pangan pernah dicoba melalui Instruksi Presiden No. 20 tahun 1979, namun implementasinya tidak cukup berpengaruh untuk mengimbangi arus kebijakan swasembada beras yang jauh lebih dominan.

Diversifikasi Pangan untuk Ketahanan Pangan

Pengalaman berbagai krisis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi yang tinggi, tetapi juga tentang keragaman sumber pangan dan aksesibilitas pangan di tingkat lokal. Dalam konteks ini, diversifikasi pangan yang mengedepankan produksi lokal menjadi salah satu strategi paling relevan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dengan mengurangi ketergantungan pada satu komoditas sekaligus memperkecil kerentanan terhadap impor.

TJF Brief yang kami keluarkan pada tahun 2020 menyebutkan bahwa diversifikasi pangan sendiri dapat dibagi menjadi dua: horizontal dan vertikal. Diversifikasi horizontal dapat dilakukan dengan memperkaya pilihan komoditas sebagai pangan pokok, misalnya dengan meningkatkan produksi ubi dan singkong untuk mendampingi dominasi beras. Sedangkan, diversifikasi vertikal berfokus pada diversifikasi pengolahan suatu komoditas, misalnya ubi tidak hanya dijual sebagai hasil pertanian, tetapi juga diolah menjadi keripik, tepung, atau produk pangan lainnya. Selain memperkaya keberagaman pangan, diversifikasi vertikal juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi petani dan komunitas lokal.

Lalu, seberapa besar potensi Indonesia untuk menjalankan kedua bentuk diversifikasi ini?

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang kuat. Dalam hal diversifikasi karbohidrat saja, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan sagu, sorgum, singkong, dan ubi sebagai alternatif nyata pengganti beras. Indonesia bahkan merupakan rumah bagi 83% ladang sagu dunia. Selain itu, masih banyak lahan suboptimal yang saat ini dikembangkan oleh komunitas lokal sebagai ladang pangan alternatif, namun belum mendapatkan dukungan kebijakan yang memadai dari pemerintah.

Dari sisi masyarakat, tanda-tanda positif sudah terlihat. Secara nasional, permintaan terhadap ikan, daging, buah, dan sayur terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini menandakan keterbukaan masyarakat terhadap pola makan yang lebih beragam dan bernutrisi. Di Papua, masyarakat mulai kembali mengonsumsi sagu, sementara di Nusa Tenggara Timur, sorgum kembali hadir di meja makan. Kearifan lokal yang sempat terpinggirkan perlahan menemukan tempatnya kembali. Yang dibutuhkan adalah dukungan sistematis dari pemerintah untuk mengoptimalkan potensi ini, melalui kebijakan yang mengakui dan menghargai keberagaman sumber pangan lokal di setiap wilayah.

Tabel 1. Peluang Alternatif untuk Pangan Pokok Pengganti Beras dan Gandum

Tabel peluang alternatif pangan pokok

Sumber: Dimodifikasi dari data Kementerian Pertanian (2018)

Keberagaman pangan adalah sesuatu yang sudah hidup dalam masyarakat Indonesia. Yang dibutuhkan sekarang adalah langkah sistematis untuk menjaga dan memperkuat apa yang sudah ada, melalui kebijakan yang mendukung produksi pangan lokal, mendorong aksesibilitas yang lebih merata, dan mengakui bahwa ketahanan pangan sejati tidak bisa bertumpu pada satu komoditas saja. Ramadan setiap tahunnya sudah mengingatkan kita bahwa keberagaman adalah kekuatan. Sudah saatnya sistem pangan kita mencerminkan hal yang sama.

Tay Juhana Foundation berkomitmen untuk mendukung pengembangan lahan suboptimal menjadi lahan produktif secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Pelajari lebih lanjut tentang program dan penelitian kami melalui Instagram dan LinkedIn kami.

Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584

Ikuti media sosial kami:
[object Object][object Object][object Object][object Object]

Kebijakan Privasi

Copyrights © 2025 Tay Juhana Foundation