17 Maret 2026 17:13
Di sebuah desa di Indragiri Hilir (Inhil), Riau, sebuah kelompok tani perempuan bercocok tanam di petak-petak kecil di sela barisan kebun kelapa keluarganya. Di sana, kangkung tumbuh berdampingan dengan cabai, timun merambati bilah-bilah kayu sederhana, dan tanaman rimpang seperti jahe, kunyit, dan lengkuas mengisi celah-celah kosong di antaranya Ragam dan penempatan tanaman di lahan selaan ini tidak terjadi begitu saja. Para perempuan ini mempertimbangkan dengan matang apa yang ditanam di mana, bagaimana menjaga tanahnya tetap subur, dan tanaman mana yang bisa saling mendukung sepanjang musim tanam.
Dikenal sebagai tumpangsari, sistem ini melibatkan penanaman beberapa jenis tanaman dalam satu lahan secara bersamaan agar saling melengkapi. Hasilnya, tidak hanya bisa untuk konsumsi rumah tangganya saja, perempuan-perempuan ini bisa menjual sebagian dari panennya ke pasar. Di saat yang bersamaan, tanah kebun keluarga bisa lebih terjadi kesuburannya tanpa harus bergantung pada input nutrisi secara eksternal. Kebun-kebun yang mungkin tampak sederhana ini, dalam praktiknya, adalah sistem pertanian yang terkelola dengan pengetahuan dan perhitungan yang cermat. Dalam hal ini, tak jarang pengelolanya adalah seorang perempuan.
Sekilas, praktik ini mungkin tampak sekadar sebagai kebiasaan lokal yang lahir dari kebutuhan dan tradisi. Namun, secara tidak sadar, di sebuah selat yang terletak ribuan kilometer dari Inhil, rantai pasok yang menopang keberlangsungan pertanian modern sedang menghadapi tantangan. Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran yang paling penting di dunia, saat ini sedang ditutup sebagai imbas dari eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Apa yang terjadi di selat tersebut mungkin terasa jauh dari realitas kebun kelapa di Riau. Akan tetapi, keterkaitannya sebenarnya lebih kompleks dari yang terlihat.
Selat tersebut memang lebih dikenal sebagai jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Akan tetapi, di sisi yang lebih jarang terlihat adalah perannya dalam rantai pasok pupuk global. Melalui jalur ini, mengalir sebagian besar bahan baku input pertanian modern, seperti pupuk urea, bahan mentah fosfat dan sulfur, sekaligus gas yang merupakan bahan bakar utama pembuatan pupuk. Bahan-bahan ini memang jarang menjadi perhatian bagi masyarakat kebanyakan, tetapi sebenarnya berada di balik hampir seluruh negara yang melakukan kegiatan produksi pangan berbasis pertanian modern, terutama dalam skala besar
Sistem produksi dan pengadaan pasokan pupuk di Indonesia, tentu, tidak terlepas dari rantai pasok global tersebut. Data dari Observatory of Economic Complexity (OEC) pada tahun 2024, yang polanya masih berlanjut hingga tahun 2025, menunjukan bahwa Indonesia merupakan importir pupuk terbesar ke-11 di dunia. Walaupun Indonesia merupakan produsen pupuk urea terbesar di Asia Tenggara, impor pupuk, termasuk urea, tetap dilakukan untuk memastikan pasokan pupuk dapat menjangkau seluruh wilayah di Nusantara.
Tidak hanya pupuk urea, ketergantungan impor bahan mentah untuk produksi pupuk lainnya justru lebih besar, utamanya untuk pasokan bahan produksi NPK seperti fosfat (P) dan kalium (K) yang tidak tersedia secara natural di alam Indonesia. Walaupun sumber impor kalium diklaim utamanya berasal dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah berkonflik, Yordania dan Aljazair adalah sumber impor utama untuk pasokan fosfat Indonesia, dengan 60% dari total pasokan berasal dari Yordania. Sementara itu, pasokan sulfur juga banyak didatangkan dari negara-negara di kawasan Teluk. Tidak berhenti di situ, gas yang merupakan bahan bakar produksi pupuk, termasuk urea, juga terhambat, mengikuti dinamika pasar energi global. Risiko yang diciptakan hambatan-hambatan ini tidak menciptakan dampak yang instan terhadap sistem pangan Indonesia, tetapi tetap signifikan jika berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Untuk kondisi dalam negeri sendiri, Kementerian Pertanian sudah menyampaikan bahwa stok pupuk Indonesia saat ini masih dalam kondisi aman. Pernyataan ini mencerminkan kondisi stok cadangan yang tersedia dan memang perlu diapresiasi. Namun, stok cadangan hanya dapat menjawab kebutuhan di hari ini. Stok cadangan tidak serta merta menyelesaikan secara struktural jika gangguan pasokan terus terjadi hingga beberapa musim tanam dan harga pupuk terus meroket.
Pasokan urea memang dapat dikatakan relatif lebih stabil karena kapasitas produksi dalam negeri yang cukup kuat. Namun, situasinya berbeda untuk pupuk majemuk seperti NPK. Jenis pupuk ini sangat bergantung pada bahan baku impor seperti fosfat dan sulfur, yang harus melewati jalur perdagangan global yang rentan terhadap gangguan tersebut.
Di sisi lain, pupuk NPK justru merupakan jenis pupuk yang paling banyak digunakan oleh petani berskala kecil. Kelompok petani ini biasanya memiliki ruang yang paling sempit untuk menanggung kenaikan harga dan paling terbatas aksesnya terhadap alternatif input. Ketika harga pupuk naik atau pasokan menipis, mereka lah yang pertama kali merasakan dampaknya. Di antara para petani berskala kecil tersebut, perempuan sering kali berada dalam posisi yang lebih rentan. Mereka cenderung mengelola lahan yang lebih kecil, memiliki akses kredit yang lebih terbatas, dan lebih jarang tersentuh oleh sistem distribusi subsidi pupuk.
Gangguan pasokan pupuk juga memiliki pola dampak yang berbeda dibandingkan komoditas lain. Jika harga minyak naik, dampaknya langsung terlihat di pom-pom bensin. Sebaliknya, gangguan pasokan pupuk sering kali baru terasa setelah satu musim tanam kemudian. Petani mungkin baru merasakan kelangkaan saat musim tanam berikutnya, sementara dampaknya pada hasil panen baru terlihat beberapa bulan setelahnya. Ketika harga pangan akhirnya naik di pasar pada masa tersebut, kesempatan untuk melakukan intervensi sering kali sudah terlewat.
Pola kerentanan seperti ini sebenarnya sudah pernah terjadi sebelumnya. Konflik di Laut Merah pada 2024 sempat menghambat impor bahan baku PT Pupuk Indonesia. Biaya meningkat hingga sekitar 30% dan waktu pengiriman bertambah hingga dua minggu, pada saat input untuk peningkatan produksi padi sangat dibutuhkan akibat gangguan cuaca. Sebelumnya, krisis Rusia dan Ukraina pada 2022 juga memberikan tekanan serupa, mengingat Rusia merupakan salah satu eksportir utama urea sekaligus pemasok gandum dunia.
Pertanian Regeneratif sebagai Salah Satu Jalan
Salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal adalah dengan memperkuat praktik pertanian regeneratif. Pendekatan ini berfokus pada pemulihan kesehatan tanah dan memperkuat siklus nutrisi alami di lahan pertanian. Cara ini memang tidak berarti sepenuhnya menghapus penggunaan pupuk, tetapi cara ini bisa mengurangi ketergantungannya dalam jumlah besar secara efektif. Melalui pertanian regeneratif, struktur tanah bisa diperbaiki, sumber nutrisi organik bisa dimanfaatkan, serta dengan adanya beragam jenis tanaman, perlindungan terhadap hama dan penyakit dapat tercipta secara alami. Secara lebih lanjut, pertanian regeneratif bisa bekerja secara efektif dengan menjaga tanah sebagaimana adanya, membiarkan sisa tanaman di tanah untuk menjadi bahan organik yang berperan sebagai ‘makanan’ bagi mikroorganisme yang mampu membawa hara ke tanaman, dan menanam berbagai tanaman dengan tingkat kedalaman tanah berbeda dalam satu waktu.
Ketika ketergantungan terhadap input, terutama yang perlu pasokan impor, berkurang, rantai produksi pangan juga menjadi lebih pendek. Semakin sedikit input yang harus melintasi ribuan kilometer, semakin kecil pula dampak gangguan global terhadap pertanian domestik.
Menariknya, di banyak wilayah Indonesia praktik semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah lama menjadi bagian dari cara bertani di tingkat komunitas, terutama di kalangan petani kecil. Dan dalam banyak komunitas tersebut, perempuan memainkan peran penting dalam menjaga praktik ini.
Data World Bank menunjukkan bahwa sekitar 24 persen petani kecil di Indonesia adalah perempuan, sementara sekitar 10 persen rumah tangga pertanian dipimpin oleh perempuan. Namun, perlu diperhatikan, Food and Agriculture Organization (FAO) telah lama menunjukkan bahwa produksi pangan di tingkat rumah tangga sering tidak sepenuhnya tercatat dalam statistik resmi. Artinya, kontribusi perempuan dalam pertanian kemungkinan jauh lebih besar daripada yang tercermin dalam angka formal.
Salah satu contoh yang paling mudah ditemukan adalah praktik berkebun sederhana di pekarangan rumah. Kebun-kebun kecil di sekitar rumah ini jarang muncul dalam statistik pertanian, tetapi menghasilkan berbagai sayuran, rempah, dan tanaman pangan lain yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini sudah bisa dikategorikan sebagai bentuk paling sederhana dari pertanian regeneratif.
Praktik ini bukan sekadar konsep. Di Indragiri Hilir, Riau, para perempuan petani masih aktif mengelola sistem seperti ini hingga hari ini. Dalam kerja lapangan yang kami lakukan pada tahun 2025, para petani perempuan terlihat menerapkan tumpangsari di kebun-kebun yang mereka miliki. Komunitas perempuan petani juga mengelola kebun pekarangan di sela perkebunan kelapa milik keluarga secara tumpangsari.
Contoh-contoh ini bukan kasus yang berdiri sendiri. Mereka menunjukkan praktik yang sudah lama hidup di tingkat komunitas, yang sebagian besar dipertahankan oleh perempuan, namun sering kali tidak terlihat dalam statistik resmi. Memang tidak semua petani kecil bertani dengan cara yang sama. Namun pengetahuan dan praktiknya sudah ada di tengah masyarakat.
Refleksi Kembali
Para perempuan yang bertani di Indragiri Hilir tidak sedang merespons krisis pupuk global. Cara bertani mereka tidak dirancang dengan mempertimbangkan jalur pelayaran internasional atau dinamika geopolitik. Mereka hanya menanam pangan dengan cara yang menjaga tanah tetap produktif dan memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.
Namun di tengah tekanan pada rantai pasok global hari ini, praktik-praktik lokal tersebut mulai terlihat dalam perspektif yang berbeda. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk ketahanan yang tumbuh dari bawah.
Solusi atas ketergantungan pupuk tidak akan datang hanya dari kapal yang membawa pasokan baru. Di banyak tempat, sebagian jawabannya sebenarnya sudah ada di tengah komunitas. Ia tumbuh di kebun pekarangan dan di sela barisan pohon kelapa. Ia hidup dalam pengetahuan para perempuan yang telah bertani dengan cara ini selama beberapa generasi.
Yang dibutuhkan oleh para perempuan ini bukan hanya rekognisi. Kebijakan yang membentuk kehidupan bertani mereka juga perlu disusun dengan mempertimbangkan realitas yang mereka hadapi. Mereka membutuhkan akses yang lebih luas terhadap layanan publik dan jaringan pasar yang selama ini cenderung lebih sulit dijangkau oleh petani perempuan skala kecil.
Pada saat yang bersamaan, praktik pertanian regeneratif yang mereka jalankan juga perlu dipandang bukan hanya sebagai tradisi yang didokumentasikan, melainkan juga sebagai pengetahuan yang bisa terus dikembangkan.
Pada akhirnya, memperkuat ketahanan sistem pangan mungkin tidak selalu hanya melibatkan rantai pasok yang panjang. Terkadang, cerita dari lapangan tentang praktik menanam pangan yang berbeda di tingkat lokal juga bisa memperkaya solusi. Terutama, dengan menilik praktik pertanian yang dilakukan para perempuan petani selama ini.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang praktik pertanian regeneratif di tingkat komunitas di Indonesia, Anda dapat membaca artikel kami sebelumnya di sini. Untuk pembahasan yang lebih mendalam mengenai analisis TJF terkait resiliensi di tengah krisis pangan, Anda juga dapat membaca beberapa research brief berikut.
What Could be the Strategy to Strengthen our Food System?
Strengthening Farmers Resilience and Rural Food System in Response to the Pandemic
Re-visiting Government of Indonesia Strategies on Food Crisis and Farmers’ Resilience
Lebih lanjut, mari ikuti TJF melalui platform Instagram dan LinkedIn untuk informasi terbaru terkait riset kami yang sedang berlangsung dan pembaruan lapangan kami.
Research Article
Pertanian
Pemberdayaan Petani
Ketahanan Pangan
Tata Kelola
Lahan Gambut Berkelanjutan
Lahan Sub Optimal
Lanskap
Mata Pencaharian
Lahan Suboptimal
Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440
Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584
Kebijakan Privasi
Copyrights © 2026 Tay Juhana Foundation | Fonts by Fontfabric