19 Mei 2026 14:23
Pada April 2026, World Meteorological Organization (WMO) memberi sinyal yang cukup jelas: suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuatorial mengalami peningkatan cepat, menandakan kemungkinan kembalinya kondisi El Niño mulai pertengahan 2026. WMO mencatat bahwa model-model iklim kini juga mulai mengindikasikan arah yang sama, bahwa El Niño sudah mulai datang dan diperkirakan akan semakin menguat seiring berjalannya tahun. Sejalan dengan hal itu, Climate Prediction Center milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebutkan perkiraan peluang terjadinya El Niño mencapai 82% untuk periode Mei-Juli 2026.
Gejala awal El Niño sudah mulai terlihat di Indonesia. Berdasarkan ENSO Diagnostic Discussion dari NOAA, data atmosfer pada April hingga Mei 2026 menunjukkan kondisi langit yang lebih kering dan cerah dengan curah hujan di bawah normal di berbagai wilayah Indonesia, pola yang umumnya menjadi penanda awal kemunculan El Niño. Di Indonesia sendiri, BRIN juga telah memperingatkan potensi El Niño kuat yang dapat memicu kekeringan berkepanjangan, gagal panen, hingga kenaikan harga pangan. Fenomena ini bahkan mulai dikenal sebagai “Godzilla El Niño”, sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia.

Gambar 1. Kondisi langit yang lebih kering dan cerah dari biasanya di Indonesia dan sekitarnya, tercatat antara 10 April hingga 5 Mei 2026. Area berwarna oranye dan merah menunjukkan curah hujan dan tutupan awan yang lebih sedikit dari normal, sementara area biru menunjukkan sebaliknya. Posisi Indonesia yang berada di zona oranye pekat mengindikasikan pola awal yang konsisten dengan datangnya El Niño. (Sumber: NOAA)
Ancaman tersebut memiliki dasar yang kuat secara historis. Laporan khusus FAO untuk Indonesia mencatat bahwa El Niño 1997/1998 menyebabkan produksi beras nasional turun sekitar 8% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, data BPS yang diberitakan Kompas.id menunjukkan bahwa El Niño 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 1,91 juta ton hanya dalam empat bulan pertama tahun tersebut, seiring menyusutnya luas panen lebih dari 15% dibanding periode yang sama pada 2023.
Namun tekanan terhadap sektor pertanian hari ini tidak hanya datang dari krisis iklim.
Memasuki awal 2026, gangguan pada jalur distribusi global menyebabkan pasokan pupuk semakin ketat. Harga urea melonjak hampir dua kali lipat dan semakin membebani petani kecil yang sejak awal bekerja dengan margin yang terbatas. Di saat yang sama, Indonesia juga tengah mendorong agenda swasembada pangan penuh dengan menghentikan impor beras sepenuhnya. Kondisi ini membuat ruang penyangga menjadi semakin terbatas ketika produksi domestik mengalami gangguan. Kondisi ini juga terjadi ketika sistem pangan Indonesia masih menaruh fokus utama pada beras sebagai pangan utama, sehingga gangguan terhadap produksi padi dapat memberi dampak yang luas terhadap ketahanan pangan nasional. Dalam konteks inilah, bentang lahan basah Indonesia menjadi penting untuk kembali diperhatikan, terutama dengan pengelolaan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan, bertanggung jawab, dan adaptif.
Hari ini, tiga tekanan tersebut hadir secara bersamaan: ancaman krisis iklim, lonjakan harga pupuk, dan tuntutan ketahanan pangan nasional. Bagi masyarakat yang hidup dan bertani di kawasan lahan basah, kemampuan menghadapi tekanan tersebut sangat dipengaruhi oleh bagaimana tanah mereka dikelola.
Indonesia memiliki sekitar 39,6 juta hektare lahan basah, mulai dari gambut, rawa, hingga dataran pasang surut yang mencakup sekitar 21% wilayah daratan negara ini. Kawasan tersebut tersebar luas di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Selama bertahun-tahun, lahan basah kerap dipandang sebagai kawasan “suboptimal”: terlalu basah, terlalu asam, dan sulit dikelola untuk pertanian. Akibatnya, banyak wilayah yang kemudian dikeringkan untuk perkebunan, dibuka dengan pembakaran, atau ditinggalkan begitu saja.
Padahal, cara pengelolaan lahan justru menjadi faktor yang sangat menentukan.
Research Brief TJF edisi Maret 2026 tentang Wetland Management Techniques for Sustainable Agriculture menyoroti bahwa lahan basah yang dikelola secara tepat memiliki kapasitas untuk mendukung sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap tekanan lingkungan maupun ekonomi. Karakter alaminya yang mampu menyimpan air dan kaya bahan organik menjadi modal dasar yang penting. Namun, kapasitas tersebut baru dapat bekerja secara optimal ketika diiringi dengan praktik pengelolaan air dan tanah yang sesuai dengan karakter tanahnya.
Alih-alih mengeringkan lahan sepenuhnya, pendekatan pengelolaan yang berkelanjutan berupaya menjaga keseimbangan air di dalam tanah melalui jaringan parit yang saling terhubung dan pintu air yang berfungsi mengatur, bukan membuang, air keluar lahan. Pendekatan seperti ini membantu menjaga kelembapan tanah, termasuk ketika musim kering berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Di Pulau Burung, Indragiri Hilir, Riau, TJF mempelajari praktik pengelolaan kebun kelapa gambut yang menggunakan sistem Water Management Trinity (Trio Tata Air/WMT) sejak pertengahan 1980-an. Berbeda dengan sistem drainase konvensional yang bertujuan mengalirkan air keluar dari lahan, WMT dirancang untuk mempertahankan dan mengatur tinggi muka air di dalam tanah. Melalui jaringan kanal dan pintu air, kondisi hidrologis lahan dijaga agar tetap stabil sepanjang musim hujan maupun musim kemarau.
Ketika Indonesia mengalami kekeringan El Niño yang parah pada 2019, peneliti TJF melakukan pemantauan muka air tanah setiap dua minggu selama musim kering berlangsung. Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal peer-reviewed, IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, melalui tulisan "Alleviating Peatland Fire Risk Using Water Management Trinity and Community Involvement" (Fawzi, Qurani & Darajat, IOP Conference Series, 2021) menunjukkan bahwa bahkan pada puncak kekeringan, muka air di area WMT tidak pernah turun lebih dari 71 sentimeter. Angka tersebut masih berada dalam rentang yang memadai untuk menjaga produktivitas tanaman sekaligus membantu menurunkan risiko kebakaran gambut.
Temuan tersebut juga diperkuat oleh data satelit NASA yang menunjukkan bahwa kepadatan hotspot di area WMT jauh lebih rendah dibandingkan perkebunan di sekitarnya yang tidak menggunakan pendekatan serupa selama periode kekeringan yang sama. Tidak ditemukan area terbakar di dalam zona WMT.
Yang penting dicatat, temuan ini bukan simulasi maupun proyeksi. Data tersebut berasal dari pengamatan langsung selama kejadian El Niño nyata pada lahan yang telah dikelola secara konsisten selama lebih dari tiga dekade.
Tidak hanya pada pengelolaan air mendasar yang menjadi kunci satu-satunya. Research Brief TJF yang sama juga menunjukkan bagaimana praktik pengelolaan tanah dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk sintetis yang harganya semakin tidak stabil.
Penggunaan kapur pertanian seperti dolomit, misalnya, membantu menurunkan tingkat keasaman gambut tanpa harus bergantung sepenuhnya pada input sintetis. Sementara itu, pemanfaatan kompos dan sisa tanaman membantu memulihkan kesuburan tanah secara alami dari dalam ekosistem pertanian itu sendiri.
Praktik mina padi juga menjadi contoh pendekatan terintegrasi yang relevan. Dalam sistem ini, budidaya ikan dilakukan bersamaan dengan penanaman padi di lahan tergenang. Limbah organik dari ikan berfungsi sebagai sumber nutrisi alami bagi tanah, sekaligus memberikan tambahan sumber pangan dan pendapatan dari satu hamparan lahan yang sama.
Tentu saja, pendekatan seperti ini tidak membuat petani sepenuhnya kebal terhadap lonjakan harga pupuk atau tekanan pasar. Namun praktik-praktik tersebut dapat membantu mengurangi tingkat kerentanan terhadap guncangan eksternal, terutama ketika harga input pertanian meningkat tajam.
Ketika musim kering datang lebih panjang dan biaya produksi meningkat, petani yang memiliki sistem pengelolaan air dan tanah yang lebih baik akan berada pada posisi yang lebih siap untuk bertahan. Lahannya mampu mempertahankan air lebih lama ketika curah hujan menurun. Tanahnya tetap produktif tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pupuk sintetis. Serta, melalui sistem pertanian yang terintegrasi, satu lahan dapat menghasilkan lebih dari satu sumber pangan maupun pendapatan.
Di tengah tekanan krisis iklim, lonjakan harga input pertanian, dan tantangan menjaga ketahanan pangan nasional, praktik pengelolaan lahan basah yang berkelanjutan menunjukkan bagaimana lanskap ini dapat menjadi fondasi pertanian yang lebih adaptif dan tangguh untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan.
Untuk terus mengikuti cerita, pembelajaran, dan berbagai perkembangan seputar pertanian berkelanjutan serta ketahanan pangan, temukan lebih banyak perjalanan kami di Instagram dan LinkedIn.
Araaf, R.T. & Gultom, P.M. (March 2026). Wetland Management Techniques for Sustainable Agriculture. TJF Research Brief. Tay Juhana Foundation, Jakarta. https://be.tayjuhanafoundation.org/storage/742/01KNRMYFXM9HNA1GGBB37HBF5T.pdf
CNBC Indonesia. (2 May 2026). Super El Niño Mengintai, Bukan Cuma Gerah tapi Juga Bikin Dompet Tipis. https://www.cnbcindonesia.com/research/20260502121259-128-731682/super-el-nino-mengintai-bukan-cuma-gerah-tapi-juga-bikin-dompet-tipis
FAO. (1998). Special Report on Indonesia. https://www.fao.org/4/W9997e/W9997e00.htm
Fawzi, N.I., et al. (2024). Integrated water management practice in tropical peatland agriculture has low carbon emissions and subsidence rates. Heliyon, 10(2), e26661. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e26661
Fawzi, N.I., Qurani, I.Z., & Darajat, R.G. (2021). Alleviating Peatland Fire Risk Using Water Management Trinity and Community Involvement. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. https://be.tayjuhanafoundation.org/storage/451/alleviating-peatland-fire-risk-using-water-management-trinity-and-community-involvement.pdf
FFTC Agricultural Policy Platform. (2025). Strategic Staple Crop Diversification for Indonesia's Food Sovereignty: Policy, Regulation, and Institutional Framework. https://ap.fftc.org.tw/article/3861
Kompas.id. (15 October 2024). Rice Production Down 760,000 Tons, Imports Reach 3.23 Million Tons. https://www.kompas.id/artikel/en-produksi-beras-turun-760000-ton-impornya-tembus-323-juta-ton
Margono, B.A., Bwangoy, J.R.B., Potapov, P.V., & Hansen, M.C. (2014). Mapping wetlands in Indonesia using Landsat and PALSAR data-sets and derived topographical indices. Geo-spatial Information Science, 17(1), 60–71. https://doi.org/10.1080/10095020.2014.898560
NOAA Climate Prediction Center. (May 2026). ENSO Diagnostic Discussion. https://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/analysis_monitoring/enso_advisory/ensodisc.pdf
World Meteorological Organization. (24 April 2026). WMO: Likelihood Increases of El Niño. https://wmo.int/media/news/wmo-likelihood-increases-of-el-nino
Tay Juhana Foundation adalah organisasi nirlaba berbasis di Jakarta yang berfokus pada pengembangan pertanian berkelanjutan di lahan suboptimal, dengan mendukung keberlanjutan komunitas dan ekosistem secara beriringan.
Research Article
Pertanian
Pemberdayaan Petani
Ketahanan Pangan
Lahan Gambut Berkelanjutan
Lahan Sub Optimal
Lanskap
Mata Pencaharian
Climate Resilience
Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440
Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584
Kebijakan Privasi
Copyrights © 2026 Tay Juhana Foundation