Bertani Berkelanjutan, Berdampingan dengan Gambut

17 Februari 2026 09:42

Bertani Berkelanjutan, Berdampingan dengan Gambut

Di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, masyarakatnya kebanyakan sudah sejak lama menggantungkan hidupnya pada pertanian. Hal ini tetap mereka lakukan walaupun 90% jenis tanah di wilayah tersebut adalah gambut yang tergolong sulit untuk ditanami. Tanah gambut merupakan tanah yang terdiri dari tumpukan tanaman berusia ribuan tahun di wilayah berair yang belum terurai sempurna. Hal ini menjadikan tanah gambut selalu lembab dan kurang subur untuk pertanian. Walau begitu, masyarakat Inhil tidak menyerah pada keadaan dan terus beradaptasi untuk dapat bertahan hidup berdampingan dengan gambut.

Untuk bisa ditanami, tanah gambut harus mendapatkan perawatan khusus yang lebih intensif. Salah satunya adalah dengan mengatur kadar air di tanahnya supaya tidak terlalu basah. Namun, pada praktiknya, salah satu cara yang umum dilakukan adalah mengeringkan tanah secara total. Cara ini justru berpotensi menyebabkan tanah mudah terbakar dan melepaskan karbon dalam jumlah besar. Hal ini kemudian akan menimbulkan konsekuensi besar bagi lingkungan, terutama di tengah krisis iklim seperti saat ini.

Konsekuensi lingkungan ini membawa kita pada sebuah pertanyaan: bagaimana caranya agar masyarakat Inhil tidak kehilangan sumber penghidupannya sembari tetap bisa menjaga kelestarian lingkungan?

Aktivitas pertanian lokal dan kelestarian tanah gambut bisa berjalan berdampingan jika dilakukan dengan bertanggung jawab dan memperhatikan beberapa hal. Riset yang dilakukan Tay Juhana Foundation (TJF) menemukan bahwa ada dua hal utama yang perlu diperhatikan.

Pertama, jenis tanah gambutnya harus diperhatikan. Tanah gambut yang dapat ditanami dengan risiko lingkungan lebih rendah merupakan tanah gambut dengan kedalaman kurang dari tiga meter. Selain itu, komposisi gambutnya sendiri juga menentukan potensinya untuk ditanami. Gambut yang bisa ditanami adalah gambut yang sudah mulai terurai dengan lapisan bawah lempung. Walaupun tanah gambut yang lebih dalam sebenarnya juga bisa ditanami dalam kondisi tertentu, sebaiknya tanah dengan karakter tersebut difokuskan untuk konservasi karena lebih berisiko secara ekologis.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah manajemen airnya. Gambut memiliki sifat dasar seperti spons besar yang mudah menyerap air sehingga selalu basah tetapi juga mudah mengering jika tidak ada hujan. Untuk dapat ditanami, tanah gambut harus dibuat lebih kering. Akan tetapi, pengeringan total tanah gambut justru membuat tanaman kekurangan air, selain memiliki konsekuensi lingkungan besar. Hal yang seharusnya dilakukan adalah dengan mengatur banyak air di tanah gambut agar tidak terlalu basah tapi juga tidak terlalu kering.

Di Pulau Burung, Inhil, sebagai contoh, praktik pengaturan air ini sudah dilakukan menggunakan jaringan kanal bernama Trio Tata Air. Penggunaan kanal di sini tidak untuk mengeringkan tanah, tetapi untuk mengatur kadar air di dalam tanah menggunakan sistem pintu air. Dengan sistem ini, air dapat disimpan ketika musim kering dan dapat dialirkan ke sungai atau laut ketika musim hujan. Riset kami menyebutkan bahwa penurunan tanah gambut untuk perkebunan di wilayah ini bisa diminimalisir sampai di bawah 2 cm per tahun melalui sistem ini. Padahal, data penurunan tanah gambut untuk pertanian umumnya berkisar di angka 2,4–7,4 cm per tahun.

Selain itu, kontras dengan pemahaman umum, penanaman tanaman pangan di beberapa tempat juga dilakukan untuk merehabilitasi tanah gambut yang mulai rusak. Riset kami menyebutkan bahwa alternatif tanaman pertama yang paling umum adalah padi. Praktik ini juga sudah dilakukan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk memperbaiki tanah gambut di Papua. Restorasi gambut tersebut dilakukan dengan menanam padi dan sagu.

Dengan melakukan praktik pertanian yang lebih sejalan dengan alam, aktivitas penghidupan komunitas pertanian di tanah gambut bisa terus berjalan dan komunitas menjadi lebih berdaya melalui ketersediaan pangan lokal. Adaptasi-adaptasi lingkungan juga terus dilakukan oleh petani-petani di Indragiri Hilir dengan menggabungkan nilai kearifan lokal dan perubahan kondisi alam. Ikuti perkembangan isu pertanian di lahan gambut, terutama di Indragiri Hilir, melalui sosial media TJF di Instagram dan LinkedIn.

Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584

Ikuti media sosial kami:
[object Object][object Object][object Object][object Object]

Kebijakan Privasi

Copyrights © 2025 Tay Juhana Foundation