Mendorong Ketahanan Pangan Berkelanjutan Melalui Budidaya Lahan Suboptimal Kuala Enok

16 September 2026 16:54

Mendorong Ketahanan Pangan Berkelanjutan Melalui Budidaya Lahan Suboptimal Kuala Enok

Siap menjelajah bersama tim program Food Security and Sustainability Center (FOSTER) Tay Juhana Foundation di Kuala Enok, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau? Pada kesempatan ini, tim melakukan riset untuk menelusuri potensi budidaya padi di lahan suboptimal—khususnya pada tanah sulfat masam dengan kondisi kering—yang berpotensi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertanian inovatif dalam mewujudkan ketahanan pangan lokal.

Selama turun-temurun, perkebunan kelapa sudah menjadi tulang punggung ekonomi utama masyarakat di kabupaten ini. Seiring berjalannya waktu, peningkatan tantangan dari perubahan iklim hingga degradasi alam berdampak pada kualitas hasil panen, harga kelapa, serta perekonomian masyarakat yang bergantung pada komoditas ini. Oleh karena itu, tim kami mengidentifikasi bahwa alternatif pendapatan lokal dibutuhkan.

Saat awal tiba di lokasi, tim mengidentifikasi bersama masyarakat bahwa tanah di wilayah Desa Tanah Merah menunjukkan tingkat keasaman yang tinggi. Saat terpapar oksigen, tingkat keasamannya kian meningkat, baik pada area yang tergenang (basah) maupun yang tidak tergenang (kering). Di saat yang  sama, meskipun tergolong lahan rawa pasang surut, kondisi tanahnya relatif kering. Hal ini  memunculkan pertanyaan mendasar: Bisakah padi tumbuh di Kuala Enok dengan kondisi lingkungan seperti ini? Jika memungkinkan, varietas padi dan perlakuan tanah apa yang paling optimal untuk mendukung pertumbuhan padi?

Untuk memulai percobaan, tim membersihkan lahan dari gulma. Setelah itu, tanah dibajak, lahan dipasangi sistem irigasi sprinkler, dan setiap petak tanahnya diberi kapur dolomit dengan dosis bervariasi. Percobaan pilot ini menggunakan sistem irigasi sprinkler untuk menjaga kondisi eksperimental yang konsisten. Sedangkan, dolomit dibutuhkan untuk membantu mengurangi tingkat keasaman tanah untuk pertumbuhan padi yang optimal. Untuk menunggu manfaat dolomit bekerja, lahan ditunggu setidaknya 14 hari sebelum padi mulai ditanam.

Untuk menjawab pertanyaan sebelumnya, tim menguji tiga varietas padi: Inpago 13 Fortiz, Ciherang dan Inpari 39 Tadah Hujan yang mulai ditanam pada Februari 2026, menggunakan metode tanam benih langsung (Tabela) dengan teknik tradisional Tugal secara manual. Ini merupakan kali pertama metode ini diterapkan di wilayah ini. Ketiga varietas tersebut dipilih karena memiliki karakteristik yang dinilai mampu bertahan dalam kondisi kering. Setiap varietas diuji dengan empat dosis dolomit yang berbeda, serta perlakuan diulang sebanyak tiga kali pada setiap kombinasi, sehingga menghasilkan total 36 subpetak percobaan.

Kiri: Penanaman dengan metode tanam benih langsung (tabela); Kanan: Penyortiran gabah setelah panen. Sumber Foto: Tay Juhana Foundation/Puan Maharani br Gultom

Hasil Setelah Menguji Tiga Varietas dan Variasi Perlakuan Dolomit

Setelah 111 hari masa tanam, hasil panen padi dari petak percobaan mencatat produktivitas sekitar 2,8 hingga 4,13 ton per hektar. Proses panen dilakukan secara bertahap karena tingkat kematangan padi yang bervariasi di setiap petaknya. Walau begitu, hasil antar kombinasi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh tantangan yang muncul di luar faktor tanah.

Proyek percontohan ini memberi gambaran awal tentang respons varietas padi terhadap perlakuan dolomit pada tanah sulfat masam kering di Kuala Enok. Hasil rata-rata menunjukkan kombinasi antara varietas Inpari 39 dengan perlakuan dosis dolomit tertinggi mencatat potensi dan produktivitas aktual tertinggi. Selain itu, Inpago 13 cenderung tumbuh lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya, sedangkan Ciherang dan Inpari 39 menghasilkan lebih banyak anakan dan bulir padi.

Temuan ini juga menjadi titik awal dalam memahami respons tiap varietas dan perlakuan tanah pada kondisi uji coba tersebut. Tim juga dapat mengidentifikasi hal yang perlu ditingkatkan pada siklus berikutnya—mulai dari rancangan percobaan, pengelolaan lapangan, hingga metode pemasangan jaring agar mencegah burung  memakan gabah yang memengaruhi konsistensi hasil. Langkah ini tidak hanya membantu memahami aspek-aspek yang perlu diuji, tetapi juga mempersiapkan apa yang harus dimatangkan sebelum kegiatan selanjutnya. 

Pemasangan jaring di atas lahan padi untuk melindungi gabah dari burung. Sumber Foto: Tay Juhana Foundation/Puan Maharani br Gultom

Kami di Tay Juhana Foundation berkomitmen untuk mendorong ketahanan pangan di lahan suboptimal melalui praktik pertanian berkelanjutan. Ikuti pembaruan berkala mengenai proyek sistem pertanian terpadu kami melalui Instagram dan LinkedIn, serta pelajari lebih lanjut melalui TJF Research Brief.

Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584

Ikuti media sosial kami:
[object Object][object Object][object Object][object Object]

Kebijakan Privasi

Copyrights © 2026 Tay Juhana Foundation