23 Desember 2025 17:11
Cerita tentang Alam, Gotong Royong, dan Budaya.
Kabupaten Indragiri Hilir di Provinsi Riau memiliki bentang alam yang kurang layak untuk pertanian. Wilayah ini didominasi oleh rawa pasang surut dan lahan gambut yang bersifat selalu basah, memiliki tingkat asam yang tinggi, serta kebutuhan perawatan yang tidak mudah untuk dibudidaya. Namun, bagi masyarakat yang telah lama tinggal di sini, kondisi tersebut bukanlah penghalang. Justru dari sanalah cara hidup mereka terbentuk.
Salah satu wujudnya adalah parit hingga Indragiri Hilir disebut sebagai “Negeri Seribu Parit.”
Awal Mula Pembangunan Parit
Berdasarkan riset etnografi kami yang sedang berlangsung, parit-parit di wilayah seperti Enok dan Sapat diketahui telah ada sejak empat hingga lima generasi lalu. Melalui riset kami, kami menemukan bahwa parit awalnya dibuat sebagai cara masyarakat mengondisikan lahan-lahan non produktif di sekitar mereka agar bisa ditanami dan menjadi sumber penghidupan. Dengan mengandalkan pengetahuan lokal dan memanfaatkan kondisi alam tersebut, masyarakat lokal menggali saluran air yang membelah lahan-lahan tersebut untuk mengelola kelebihan air dan membuat tanahnya layak ditanami. Saluran inilah yang kemudian dikenal sebagai parit.
Sejak awal, parit tidak dibangun berlawanan dengan kondisi alam. Masyarakat memperhatikan betul pola pasang surut dan arah aliran air, lalu menyesuaikan parit agar bekerja mengikuti pola tersebut. Vegetasi di sepanjang bantaran sungai, seperti bakau dan nipah, dibiarkan tetap tumbuh karena dilihat sebagai pelindung tanah dari erosi dan arus yang kuat. Pilihan-pilihan ini mencerminkan keseimbangan antara praktik budidaya dan upaya menjaga lingkungan, jauh sebelum istilah konservasi dikenal secara masif dan formal.
Proses pembangunan parit pun dilakukan secara sederhana dan kolektif. Sebelum alat berat dan infrastruktur modern masuk ke wilayah ini, parit digali secara manual dengan tangan, menggunakan cangkul dan linggis. Pekerjaannya dilakukan secara gotong royong, melibatkan keluarga dan kerabat, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab bersama di antara mereka.
Air yang Dikelola Bersama
Seiring berjalannya waktu, parit tidak hanya menjadi saluran air, tetapi juga menjadi bagian dari sistem kehidupan bersama. Pengelolaannya dilakukan secara kolektif dan berdasarkan kesepakatan komunitas sebagaimana yang kami temukan dalam riset kami.
Setiap parit biasanya dipimpin oleh seorang Wakil Parit atau Kepala Parit yang bertugas menjaga kondisi fisik parit serta menjadi penengah ketika muncul persoalan antarpetani yang lahannya terhubung oleh saluran air yang sama. Dahulu, peran ini umumnya dipegang oleh orang yang pertama kali membuka parit, lalu diteruskan secara turun-temurun dalam lingkup keluarga.
Kini, Wakil Parit dipilih melalui musyawarah yang melibatkan para petani di sepanjang parit. Cara ini menunjukkan kesadaran bersama bahwa parit bukan milik perorangan, melainkan adalah sumber daya bersama, begitu pula pengetahuan dan aturan yang mengaturnya.
Menariknya, sistem pengelolaan parit ini terbentuk dari pertukaran berbagai budaya yang telah lama hidup berdampingan di Indragiri Hilir. Komunitas Banjar, Bugis, Jawa, dan Melayu membawa pengalaman serta praktik dari daerah asalnya masing-masing yang kemudian saling beradaptasi melalui interaksi antarkomunitas. Meski setiap kelompok memiliki paritnya masing-masing untuk dikelola, prinsip dasar pengelolaannya tetap sama, yaitu dikelola bersama, untuk kepentingan bersama.
Setiap nama parit pun menyimpan ceritanya masing-masing. Ada parit yang dinamai dari orang yang pertama membukanya, seperti Parit Hidayat di Sapat. Ada pula yang diambil dari ciri khas lingkungan sekitarnya, seperti Parit Atap Seng di Pantai Sebrang Makmur, yang merujuk pada pondok beratap seng di tepi parit.
Tidak hanya itu, secara fungsi, parit terbagi ke dalam beberapa jenis. Parit utama, atau juga sering disebut parit kongsi, menghubungkan parit-parit kecil ke sungai besar dan merupakan parit yang dikelola oleh Wakil Parit. Sedangkan, parit-parit kecil yang terhubung dengan parit utama tersebut adalah parit anak atau parit cacing yang mengalirkan air langsung ke lahan-lahan pertanian. Di beberapa wilayah, terdapat pula parit lapis yang menghubungkan antar parit utama.
Parit sebagai Sistem Kehidupan
Lebih dari sekadar infrastruktur pertanian, parit adalah pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Ia lahir dari proses panjang memahami alam, beradaptasi, dan gotong royong. Melalui parit, masyarakat Indragiri Hilir menunjukkan bahwa bertani di lahan gambut bukan soal menaklukkan alam, melainkan memahami batas-batasnya.
Hari ini, parit tetap menjadi sistem yang hidup—menghubungkan air, manusia, dan budaya dalam satu kesatuan. Mengelola parit berarti menjaga hubungan antarwarga, merawat lahan, dan menghormati ritme pasang surut yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak lama.
Pelajari lebih jauh kisah dan nilai budaya parit di Indragiri Hilir melalui brief terbaru kami.
Ikuti juga Instagram dan LinkedIn kami untuk cerita dan update lainnya.
Lainnya
Research Article
Pertanian
Ketahanan Pangan
Lahan Gambut Berkelanjutan
Lahan Sub Optimal
Lanskap
Mata Pencaharian
Lahan Gambut
Lahan Sub Optimal
Lahan Suboptimal
Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440
Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584
Kebijakan Privasi
Copyrights © 2025 Tay Juhana Foundation