14 Januari 2026 09:03
Pada artikel kami sebelumnya, kami menelusuri bagaimana parit pertama kali berkembang di Indragiri Hilir, bukan sekadar sebagai saluran air untuk pertanian, melainkan sebagai sebuah sistem kehidupan yang tumbuh dari pengetahuan kolektif, mengikuti pola pasang surut, dan dirawat lintas generasi. Sejak awal pembangunannya, parit menjadi penyangga kehidupan sehari-hari: mengatur pertanian, mobilitas, hingga akses penghidupan masyarakat. Namun, setelah puluhan tahun menjadi fondasi hidup, bagaimana kondisi parit hari ini?
Sayangnya, di banyak desa, parit kini berada dalam kondisi yang kian rentan. Tekanan yang semakin besar dari perubahan iklim dan faktor alamiah, biaya perawatan yang terus meningkat, serta lemahnya tata kelola membuat fungsi parit perlahan runtuh.
Berdasarkan riset etnografi yang sedang kami lakukan, tanda-tanda degradasi alami dan meningkatnya ancaman perubahan iklim yang turut mengancam keberlangsungan parit semakin jelas terlihat di berbagai wilayah. Pengamatan kami di empat kecamatan di Indragiri Hilir menunjukkan bahwa abrasi dan penurunan tanah menjadi persoalan yang paling mengkhawatirkan. Lahan pertanian semakin turun dengan terjadinya subsidensi dan semakin meningkatnya level air yang kemudian meningkatkan kerentanan banjir. Saat pasang tinggi atau hujan lebat, air menggenang lebih lama dari seharusnya, membuat tanaman, termasuk kelapa, tenggelam dan pertumbuhannya terhambat. Petani setempat menyebut kondisi ketika pohon kelapa yang terkena genangan tetap hidup tetapi tidak lagi berbuah sebagai mucung, yaitu pohonnya berdiri, namun produktivitasnya hilang.
Tidak hanya itu, kualitas air pun ikut menurun seiring berkurangnya perawatan parit. Tanpa pembersihan rutin, aliran pasang surut melemah dan air terjebak di tempat-tempat yang, dalam kondisi prima, seharusnya mengalir bebas. Di sejumlah parit, air yang menggenang memicu kondisi asam yang semakin parah, ditandai dengan munculnya residu seperti pirit yang mengapung di permukaan air. Dalam jangka panjang, kondisi ini merusak kesuburan tanah dan menggugurkan fungsi utama parit sebagai pengatur air agar lahan tetap bisa diolah.
Walau begitu, persoalan parit tidak berhenti pada kerusakan alami. Beban ekonomi untuk merawatnya juga meningkat tajam seiring dengan semakin mencekiknya kerusakan. Penguatan dan pembersihan tanggul untuk menahan kenaikan muka air serta memulihkan fungsi parit membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Bagi banyak petani, perawatan parit menjadi beban ekonomi yang mahal dengan hasil yang tidak pasti. Meski sudah mengeluarkan waktu dan uang, banjir tetap berpeluang datang, panen tetap bisa gagal, dan kerugian selalu mengintai.
Ketidakpastian ini memaksa banyak keluarga petani mengambil keputusan sulit. Ada yang mencoba menjual lahannya, ada pula yang beralih dari bertani kelapa ke komoditas yang dianggap lebih tahan, seperti kelapa sawit. Tak sedikit yang akhirnya meninggalkan lahannya sama sekali. Dari sini, efek berantainya muncul: seperti lahan yang terbengkalai berubah menjadi penuh semak, menarik hama seperti monyet, tupai, dan kumbang badak. Hama-hama ini tidak tinggal diam di satu tempat. Mereka menyebar ke kebun yang masih aktif, merusak tanaman, dan memperdalam kerugian bagi petani yang bertahan di area tersebut.
Seiring memburuknya kondisi parit, sistem kolektif sosial yang sedari dulu menopang perawatannya pun ikut melemah.
Secara historis, pengelolaan parit bertumpu pada tanggung jawab kolektif antar warga, dipimpin oleh Wakil Parit dan diperkuat melalui musyawarah. Sistem ini berjalan efektif ketika parit masih menjadi pusat kehidupan sehari-hari, ketika hampir keseluruhan masyarakat masih tinggal di dekat lahan pertaniannya dan bergantung langsung pada aliran air serta memiliki rasa kepemilikan bersama atas perawatannya. Kini, realitas itu telah berubah seiring dengan adanya modernisasi.
Sekarang, banyak warga tidak lagi bermukim di sekitar parit, berpindah ke kawasan yang lebih padat yang kini berkembang menjadi desa-desa. Generasi muda semakin menjauh dari sektor pertanian dan mencari penghidupan di luar ladang. Peran Wakil Parit memang masih ada, tetapi kewenangannya kian terbatas, tergerus oleh besarnya tantangan dan minimnya dukungan eksternal. Perhatian pemerintah terhadap parit pun masih terbatas, membuat masyarakat bertumpu pada upaya swadaya, yang dibiayai dan dijalankan sendiri, yang kini tak lagi memadai untuk menjawab persoalan yang semakin kompleks.
Meski demikian, eksistensi parit masih belum kehilangan maknanya.

Bagi banyak petani, parit adalah sistem yang menentukan hidup-mati usaha tani mereka. Kondisinya menentukan apakah mereka masih bisa menetap dan mengolah lahan atau tidak. Seorang petani di Sapat menyampaikan kenyataan ini dengan lugas, “Kalau tidak ada parit, tidak ada kebun. Parit itu jantung pertanian di sini.” Pandangan ini bergema di banyak desa, bukan sebagai romantisasi masa lalu, melainkan sebagai realitas yang mereka hadapi hari ini.
Untuk menyadari kenyataan ini, kita perlu mengubah cara pandang terhadap parit. Perbaikan teknis semata tidak cukup untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh keberlangsungan pertanian di tanah Indragiri Hilir dan signifikansi peran parit. Parit perlu kembali dipahami sebagai sistem hidup yang bergantung pada keseimbangan ekologis, tata kelola kolektif, dan ketahanan ekonomi masyarakat. Penguatan musyawarah dengan perluasan fungsi Wakil Parit, pemulihan zona penyangga alami seperti mangrove dan nipah yang dulu melindungi saluran air, dan pengurangan kerentanan ekonomi melalui diversifikasi mata pencaharian dapat menjadi langkah-langkah yang diambil untuk meringankan tekanan yang dihadapi parit hari ini.
Masa depan parit di Indragiri Hilir belum ditentukan. Kondisinya saat ini memang mencerminkan tekanan yang berat, tetapi juga menunjukkan apa yang sedang dipertaruhkan. Menjaga parit berarti menjaga hubungan antara air, tanah, dan komunitas agar tetap bekerja sebagai satu kesatuan. Di bentang alam yang dibentuk oleh pasang surut seperti di Indragiri Hilir, pertanyaan yang muncul bukan hanya bagaimana parit bisa diperbaiki, tetapi apakah ia dapat kembali diakui dan didukung sebagai fondasi kehidupan, sebagaimana perannya selama ini.
Untuk menggali lebih lanjut mengenai tantangan dan kemungkinan langkah selanjutnya, baca TJF Research Brief terbaru kami tentang parit di Indragiri Hilir. Ikuti juga Tay Juhana Foundation di Instagram dan LinkedIn untuk kabar tentang riset dan kerja lapangan terbaru kami.
Research Article
Pertanian
Ketahanan Pangan
Tata Kelola
Lahan Gambut Berkelanjutan
Lahan Sub Optimal
Lanskap
Mata Pencaharian
Lahan Gambut
Lahan Suboptimal
Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440
Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584
Kebijakan Privasi
Copyrights © 2025 Tay Juhana Foundation