Tradisi Ketahanan di Tanah Gambut: Strategi Adaptif Petani Kelapa di Indragiri Hilir

15 Oktober 2025 15:05

Tradisi Ketahanan di Tanah Gambut: Strategi Adaptif Petani Kelapa di Indragiri Hilir

Lahan gambut tropis Indonesia tidak hanya berperan sebagai penyimpan karbon, tetapi juga sebagai rumah bagi komunitas-komunitas tangguh yang kehidupannya banyak bergantung pada tanah. Dengan luas mencapai lebih dari 13,43 juta hektare (lebih dari separuhnya berada di Sumatra), Kawasan Hidrologis Gambut (KHG) berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus mendukung kehidupan masyarakat di atasnya dari generasi ke generasi.

Di antara luasnya wilayah KHG di Indonesia, Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah dengan bentang lahan gambut terbesar di Indonesia sekaligus pemilik lahan perkebunan yang luas. Dari luasnya lahan perkebunan tersebut, kelapa menjadi komoditas unggulan kedua setelah kepala sawit. Hal ini dibuktikan dengan besaran sumbangan Provinsi Riau terhadap total produksi kelapa nasional, yaitu sekitar 11%.

Sebagai salah satu penyumbang produksi kelapa terbesar di Provinsi Riau, perkebunan kelapa di lahan gambut sudah menjadi bagian dari tradisi lokal di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Sistem perkebunannya sebagian besar dikelola oleh petani kecil dengan menggunakan praktik tradisional yang telah diadaptasi secara lokal dan diwariskan secara lintas generasi. Berbeda dengan perkebunan industri besar, perkebunan petani kecil biasanya beroperasi dalam skala kecil—mengandalkan tenaga kerja manual, metode tradisional, dan kondisi tanah alami, dengan sedikit penggunaan mesin atau input kimia, serta akses terbatas ke pasar yang lebih besar. Namun, dalam sistem yang sederhana ini, kelestarian alam dan keberlangsungan komunitas tetap dapat berjalan beriringan. Pohon kelapa yang telah lama tumbuh di lahan gambut di Inhil bukan hanya berperan sebagai sumber penghasilan, melainkan menjadi bagian dari sebuah ekosistem di mana tanah, air, dan masyarakat saling berhubungan erat melalui interaksi terus menerus.

Satu Kesatuan Hubungan Manusia dan Alam

Untuk memahami lebih dalam hubungan ini, kami menggunakan pendekatan Sistem Sosio-Ekologis (Socio-Ecological System/SES), yaitu cara pandang yang melihat manusia dan alam sebagai satu kesatuan dalam sebuah ekosistem besar, dalam riset kami. Pendekatan ini memandang manusia dan alam bukan sebagai dua hal terpisah, melainkan komponen yang saling berinteraksi dan memengaruhi. Setiap aktivitas petani—dari mengelola air hingga memilih tanaman—merupakan bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Saat satu aspek berubah, aspek yang lain akan ikut berubah untuk menyesuaikan sehingga menciptakan keseimbangan baru. Melalui cara pandang ini, kita bisa memahami bagaimana sebuah komunitas membangun resiliensi, serta bagaimana manusia dan alam saling menopang untuk beradaptasi dari perubahan dan, bahkan, menghindari gangguan.

Belajar dari Cara Petani Kelapa Bertahan

Dari hasil penelitian lapangan kami di Inhil, kami menemukan banyak kisah tentang cara petani membangun strategi resiliensi di tengah dinamika alam dan ekonomi. Walaupun mereka mengandalkan sumber penghasilan utamanya pada perkebunan kelapa monokultur, mereka berhasil menciptakan berbagai cara untuk bertahan hidup dan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangganya.

Salah satu caranya adalah dengan merotasi peran kerja. Karena masa panen yang berjarak antara beberapa bulan sekali, banyak petani yang memanfaatkan waktu di sela-selanya untuk bekerja sebagai buruh di kebun milik teman atau tetangganya. Dengan begitu, petani di Inhil dapat memiliki sumber pendapatan lebih dengan merangkap sebagai pemilik lahan sekaligus buruh kebun. Walau begitu, sistem rotasi ini tidak selalu dibayar dengan uang—sebagaimana pemahaman modern akan penghidupan—tapi dengan kesepakatan bersama untuk gotong royong merotasi peran kerja dan konsumsi kerja. Pola ini tidak hanya cukup memperkuat ekonomi rumah tangga petani dengan menghemat biaya pekerja, tetapi juga mempererat ikatan kekeluargaan antar warga.

Selain itu, cara yang dilakukan oleh petani, salah satunya, adalah menerapkan pertanian tumpangsari dengan menanam pinang, pisang, ubi, nanas, dan tanaman lainnya di sela-sela pohon kelapa. Tanaman-tanaman ini membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga petani untuk dikonsumsi pribadi sekaligus menambah penghasilan kecil-kecilan dengan penjualan skala kecil. Di saat hasil kelapa menurun karena cuaca atau harga pasar, hasil tumpangsari dapat menjadi jaring pengaman bagi stabilitas ekonomi keluarga petani.

Kedua cara ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal dan gotong royong dalam komunitas dapat menjadi pondasi untuk menjaga keberlanjutan hidup komunitas tersebut di lahan yang rentan.

Menyambung Cerita dari Tanah Gambut Inhil

Apa yang dilakukan para petani di Inhil adalah potret kecil dari kisah besar tentang hubungan manusia dan alam. Setiap keputusan—apa yang ditanam, bagaimana pembagian kerja, hingga kapan waktu panen—mencerminkan bagaimana penghidupan komunitas dan ekosistem yang menaunginya berjalan beriringan.

Simak cerita lain yang kami temukan dari komunitas petani gambut di Inhil dalam beradaptasi di tengah dinamika perubahan melalui publikasi riset kami di sini. Selain itu, jangan lewatkan webinar kolaboratif kami bersama Zentide dan Greeneration Foundation, besok, 16 Oktober 2025, sebagai bagian dari Kampanye Hari Pangan Sedunia 2025 kami dengan mendaftar di sini.

Temukan cerita-cerita kami dari lapangan melalui kanal kami di Instagram dan LinkedIn!

Landmark Pluit Building-2nd Floor, Tower D6, RW.4, Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Phone: (021) 6603926
WhatsApp: +62 815 8855 584

Ikuti media sosial kami:
[object Object][object Object][object Object][object Object]

Kebijakan Privasi

Copyrights © 2025 Tay Juhana Foundation